Gagal, kegagalan, adalah sebuah kata yang berkonotasi gelap atau menakutkan, benarkah?
Kegagalan tidak selamanya menakutkan. Jika Anda belum pernah mengalami kegagalan, berarti Anda belum pernah mencoba sampai batas maksimal Anda. Mengapa?
Jatuh saat memanjat pohon yang tinggi tentunya tak membuat kita menyerah untuk mengulanginya, bukan? Anda tentu ingin menaklukkan pohon yang menjulang tersebut dengan kekuatan maksimal. Kecuali, Anda mencukupkan diri dengan ketidakberdayaan Anda.
Baiklah, berarti kegagalan itu sebuah keniscayaan dong bagi pengusaha? Jika saya yang menjawab, maka saya benarkan pertanyaan itu.
Seorang pengusaha adalah risk taker(pengambil resiko). Resiko bersahabat dengan kegagalan. Premis logisnya,seorang pengusaha niscaya akan melewati kegagalan. Yang membedakan adalah seberapa kuat sang pengusaha menyikapi kegagalan. Cepat menyerah atau mengubahnya menjadi energi kesuksesan.
Sejatinya, kegagalan adalah proses mendewasakan pengusaha.
- Dengan kegagalan, seorang pengusaha mengerti mengapa dia berbuat kesalahan.
- Dengan kegagalan, seorang pengusaha memahami strategi untuk tidak mengulangi kesalahan.
- Dengan kegagalan, seorang pengusaha mendapatkan satu formula “high Risk high Return”
- Dengan kegagalan, seorang pengusaha ikut berempati(merasakan) bagaimana sakitnya saat terjatuh, sehingga akan melahirkan sifat care and responsibilty terhadap sesama.
- Dengan kegagalan, seorang pengusaha diajarkan bagaimana menjadi pribadi yang tawadhu(rendah hati), bersabar, dan bersyukur saat kemudahan mulai menjelang.
- dan Dengan kegagalan, seorang pengusaha bertambah yakin bahwa ketentuan(taqdir) Allah adalah di atas segalanya, seorang manusia hanyalah diwajibkan untuk berikhtiar dan bertawakal.
Untuk Anda, yang sedang berkecamuk dengan kegagalan, berikut saya cuplikan beberapa ayat untuk menambah semangat hidup Anda menyongsong kemudahan yang sebentar lagi menjelang :
Dalam surat Alam Nasyroh, Allah Ta’ala berfirman,
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5)
Ayat ini pun diulang setelah itu,
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 6)
Faidah ayat di atas:
1. Akhir berbagai kesulitan adalah kemudahan
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di mengatakan, “Kata al ‘usr (kesulitan) menggunakan alif-lam dan menunjukkan umum (istigroq) yaitu segala macam kesulitan. Hal ini menunjukkan bahwa bagaimana pun sulitnya, akhir dari setiap kesulitan adalah kemudahan.” [1] Dari sini, kita dapat mengambil pelajaran, “Badai pastilah berlalu (after a storm comes a calm), yaitu setelah ada kesulitan pasti ada jalan keluar.”
2. Di balik kesulitan, ada kemudahan yang begitu dekat
Dalam ayat di atas, digunakan kata ma’a, yang asalnya bermakna “bersama”. Artinya, “kemudahan akan selalu menyertai kesulitan”. Oleh karena itu, para ulama seringkali mendeskripsikan, “Seandainya kesulitan itu memasuki lubang binatang dhob (yang berlika-liku dan sempit, pen), kemudahan akan turut serta memasuki lubang itu dan akan mengeluarkan kesulitan tersebut.”[2] Padahal lubang binatang dhob begitu sempit dan sulit untuk dilewati karena berlika-liku (zig-zag). Namun kemudahan akan terus menemani kesulitan, walaupun di medan yang sesulit apapun.
Rahasia Mengapa di Balik Kesulitan, Ada Kemudahan yang Begitu Dekat
Ibnu Rajab telah mengisyaratkan hal ini. Beliau berkata, “Jika kesempitan itu semakin terasa sulit dan semakin berat, maka seorang hamba akan menjadi putus asa dan demikianlah keadaan makhluk yang tidak bisa keluar dari kesulitan. Akhirnya, ia pun menggantungkan hatinya pada Allah semata. Inilah hakekat tawakkal pada-Nya. Tawakkal inilah yang menjadi sebab terbesar keluar dari kesempitan yang ada. Karena Allah sendiri telah berjanji akan mencukupi orang yang bertawakkal pada-Nya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Tholaq: 3).” [3]
Inilah rahasia yang sebagian kita mungkin belum mengetahuinya. Jadi intinya, tawakkal lah yang menjadi sebab terbesar seseorang keluar dari kesulitan dan kesempitan.
footnote:
[1] Taisir Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, hal. 929, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H
[2] Asal perkataan ini adalah dari hadits yang dho’if (lemah), namun maknanya shahih (benar)
[3] Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 238, Darul Muayyad, cetakan pertama, tahun 1424 H.
referensi web :
1. startupbisnis.com
2. rumaysho.com






July 24, 2012 at 1:42 pm
Terimakasih atas pencerahannya..sangat menggugah
November 12, 2012 at 3:09 am
Terimakasih sobat nasihatnya.itu benar-benar menguatkn hati saya.