Berbisnis jangan hanya sekedar sambilan. Ketika Anda menganggap bisnis sebagai sambilan, hasilnya pun tidak akan maksimal. Mungkin ada sebagian orang tidak setuju dengan pernyataan ini dengan berkata” Saya kerja di kantor, dan sambilan bisnis online tiket tetapi hasilnya malah lebih besar dari gaji kantoran saya, bagaimana ini?
Baiklah, jika ada statement seperti itu, maka mari kita rinci masalahnya agar menjadi jelas kesimpulannya.
1. Anda merangkap 2(dua) pekerjaan sekaligus
Benar, Anda sebagai karyawan kantor sekaligus pebisnis online. Tunggu dulu, ini hanya berlaku jika bisnis Anda hanya satu jenis. Jika Anda juga melayani katering kantor, jual beli pulsa HP, dll maka Anda termasuk multitasking person layaknya sebuah komputer yang bisa menjalankan program word, sembari desain grafis, berinternet ria, bahkan mendengarkan murottal al quran. Apakah multitasking baik untuk kehidupan Anda? Atau semakin menambah keruwetan hidup Anda? Anda sendiri yang bisa menjawabnya
2. Fasilitas kantor sejatinya dipergunakan untuk urusan kantor
Hal ini tentu masih menjadi perdebatan. Ada yang berpendapat selama urusan kantor tidak terganggu toh wajar-wajar saja menggunakan fasilitas kantor (misal internet kantor) untuk berbisnis online. Ada pula yang tetap berprinsip : Fasilitas kantor HANYA untuk urusan kantor, tidak sepantasnya digunakan untuk urusan pribadi, apalagi hingga mengganggu kinerja kantor. Bagaimana mengompromikannya ?
Menurut hemat saya, ada beberapa poin yang harus Anda pahami sebelum memanfaatkan fasilitas kantor untuk urusan pribadi :
- Bagaimana aturan prosedur penggunaan fasilitas kantor? Jika memang aturan penggunaan fasilitas kantor melarang untuk urusan pribadi maka Anda wajib mentaatinya. Namun jika aturan dibuat fleksibel dan Anda mendapatkan izin dari atasan/pihak berwenang untuk memanfaatkannya dalam urusan pribadi ya semoga hal itu termasuk perkara yang diperbolehkan
- Apakah kinerja Anda sebagai karyawan terganggu dengan bisnis online Anda? Inilah yang penting dan utama untuk menjadi perhatian Anda. Anda diangkat atau dikontrak sebagai karyawan sejatinya untuk menunjukkan performa produktivitas Anda sebagai karyawan. Jika kinerja Anda terganggu oleh urusan pribadi, maka sejatinya Anda telah melanggar amanah yang ditunaikan kepada Anda.
- Apakah hasil dari bisnis yang Anda jalankan dengan fasilitas kantor(dengan catatan diizinkan oleh prosedur kantor Anda) dinikmati oleh Anda pribadi atau ada bagi hasil juga dengan kantor? Nah, ini yang kadang tidak konsisten. Anda boleh bangga Bisnis Online Saya Tanpa Modal Tapi Hasilnya Maksimal. Tetapi mohon diingat, internet kantor, jam kantor yang terkurangi untuk bisnis Anda, kertas dan tinta kantor(bila Anda juga memanfaatkan printer kantor) sejatinya adalah MODAL yang mendukung bisnis Anda. Jika Anda adalah seorang profesional dan konsisten dalam bisnis, seharusnya Anda layak membagi hasil bisnis Anda dengan kantor Anda. Bukankah demikian karakter pebisnis muslim yang amanah?
Lantas, karyawan tidak boleh berbisnis dong? Bukan seperti itu kesimpulan tulisan ini. Ini baru permulaan
. Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, bahwa Fokus melahirkan Hasil Maksimal. Apapun pekerjaanya. Anda sebagai pebisnis, karyawan, tukang batu, penulis, mahasiswa, dll akan merasakan kekuatan fokus. Tingkat fokus masing-masing orang memang berbeda satu sama lain. Namun, tidak ada yang membantah bahwa fokus pada satu pekerjaan akan membuat hasil yang maksimal.
Sadarilah, bahwa dengan fokus pada pekerjaan kita, Insya Allah kita akan merasakan manfaat profesionalisme dalam sebuah pekerjaan. Kita akan menjadi ahli di bidang tersebut. Dan kita akan menjadi sosok yang mandiri, pantang menyerah, dan tetap optimis dalam menghadapi masalah. Sudah begitu banyak kisah para pebisnis yang sukses karena mereka fokus pada bisnsi mereka. Walaupun jatuh berulang kali hingga pada titik nol kehidupan mereka, tetapi mereka tidak pernah menyerah dan menyadari bahwa Allah tidak akan membebani manusia di luar kemampuannya.
Jika Anda sekarang sebagai karyawan, maka fokuslah untuk menjadi karyawan profesional. Tunaikan tugas dari kantor Anda. Secara normal, hari kerja kantor adalah 5 hari. Fokuslah selama 5 hari tersebut untuk menjadi karyawan yang amanah dan profesional. Allah tidak akan lalai mencatat kesungguhan Anda sebagai sebuah pahala jika Anda memang meniatkan ikhlas karena Allah. Waktu senggang manfaatkan untuk merefresh pikiran Anda bisa dengan mendengarkan kajian islam atau bertilawah Al Quran. Bukan dengan Bisnis,karena sejatinya bisnis adalah problem, bukan refreshing. Semakin Anda menggeluti bisnis, maka semakin Anda bersahabat dengan problem-problem yang silih berganti
. Bukan menakuti-nakuti Anda untuk menjadi pebisnis online lho ya, tetapi ini penting untuk keseimbangan pola hidup Anda sebagai karyawan, keluarga di rumah, dan anggota masyarakat.
Lantas, kapan berbisnis? Saya butuh tambahan penghasilan, sedangkan hari libur adalah hari untuk keluarga dan refreshing saya
Nah, itu berarti sebenarnya Anda tidak mempunyai waktu luang untuk berbisnis selain merampas jam-jam kantor. Anda sejatinya berada dalam kondisi dilematis antara ingin profesional sebagai karyawan tetapi kenyataan gaji kurang mencukupi, dengan peluang bisnis yang menggiurkan saat jam-jam kantor. Anda harus berani memilih. Menjadi karyawan atau pebisnis?
Saya mau dua-duanya
. Sebuah pilihan yang menunjukkan karakter asli manusia, sebagaimana disebutkan dalam hadits :
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seandainya anak keturunan Adam memiliki dua lembah harta niscaya dia masih akan mencari yang ketiga. Dan tidak akan pernah menyumbat rongga anak Adam selain tanah, dan Allah menerima taubat bagi siapa pun yang mau bertaubat.” (HR. Bukhar).
Bagaimana? Masihkah Anda tetep bersikukuh dengan pilihan Anda yang menghendaki dua-duanya?
Jika Anda masih bingung, saya ingin berbagi solusi untuk memecahkan dilematis Anda. Anda boleh memakainya atau bahkan mengabaikannya
Berikut solusi yang saya anggap terbaik untuk dilematisasi antara karyawan dan pebisnis :
1. Kenali karakter pribadi Anda
Jika Anda merasa malu untuk memulai interaksi dengan manusia pada umumnya baik yang sudah Anda kenal atau yang belum Anda kenal, sebaiknya urungkan minat Anda untuk berbisnis. Berbisnis adalah Menjual Produk. Menjual butuh skill pemasaran. Skill pemasaran selaras dengan karakter seseorang yang mudah MEMULAI interaksi dengan manusia di sekitarnya. Jika Anda berkarakter sebagai “penunggu interaksi”, maka Anda boleh jadi kurang maksimal dalam berbisnis ke depannya. Berbisnis adalah berebut peluang selama memang peluang tersebut masih mampu untuk diperebutkan, bukan berarti rebutan lapak ya
.
Jadi, jika saya termasuk berkarakter penunggu dalam berinteraksi saya tidak bisa berbisnis dong? Bisa, tetapi bukan sebagai pelaku bisnis, melainkan sebagai investor bisnis. Ya, Anda bisa berinvestasi pada bisnis keluarga atau teman Anda yang sudah berjalan dan bernilai/berpeluang prospek di masa depan. Anda tinggal menanamkan modal Anda di dalamnya. Berbagi untung dan rugi, tentunya. Mengapa demikian?
- bisnis selalu berada dalam 1 diantara 2 kondisi yaitu untung atau rugi
- jika Anda hanya ingin bagi hasil/untung saja, maka hal ini jelas menzhalimi si pelaku bisnis jika ternyata dia dalam kondisi rugi saat itu.
- hanya berbagi hasil/untung saja sejatinya Anda mempraktekkan riba/tambahan, jadi bukan investasi yang Anda berikan melainkan pinjaman berbungan yang Anda maksudkan.
2. Fokus menjadi karyawan profesional selama hari kerja dan memanfaatkan liburan untuk wisata bisnis
Selama hari-hari kerja, jadilah karyawan profesional. Fokus terhadap pekerjaan utama Anda. Tanamkan niat ikhlas mengharapkan ridla Allah, kemudian tentukan target saya harus menjadi ahli dalam pekerjaan saya. Tidak ada kerugian selama Anda menjadi karyawan profesional di bidangnya. Anda akan dikenal sebagai ahli di bidangnya. Anda mendapatkan penghasilan yang halal dan berkah insya Allah (kecuali jika pekerjaan Anda bernilai syubhat atau haram menurut syariat Islam). nah, saat hari libur manfaatkan waktu liburan bersama keluarga dengan niat wisata bisnis, apa maksudnya? Saat Anda berwisata dalam rangka memanfaatkan liburan, jadikan setiap perjalanan Anda sebagai perjalanan wisata bisnis. Catatlah setiap bisnis yang ada di daerah wisata tersebut dan peluang-peluang bisnis yang belum digarap dan berpotensi di daerah tersebut. Saat pulang ke rumah, buka kembali catatan Anda dan kompromikan dengan rekan Anda yang sudah berbisnis untuk mendapatkan win-win sollution. Apakah Anda sebagai pemodal dan rekan Anda sebagai pelaku bisnis, atau Anda berdua sebagai pemodal dan pelaku bisnis juga, dengan catatan bisnis ini hanya dilakukan saat hari libur. Intinya Anda siap mengorbankan hari libur untuk berbisnis. Sekali lagi, Anda dituntut Fokus dalam hal ini.
Wah, hari bersama keluarga berkurang dong?
Terserah Anda bagaimana mengaturnya. Anda perlu mengingat bahwa dengan berbisnis, Anda harus siap berkorban waktu untuk melayani konsumen Anda, walaupun hari libur sekalipun. Konsumen tidak mau peduli kapan dia menghubungi Anda. High Risk High Return. Berkorban waktu liburan adalah High Risk, tetapi Insya Allah High Return juga yang bisa Anda dapatkan jika Anda benar-benar fokus memanfaatkannya untuk berbisnis.
Jika Anda tetap ingin bersantai dengan keluarga saat liburan, maka saran saya, jadilah investor bisnis
3. Mulailah menargetkan kapan Anda harus mulai FOKUS berbisnis
Jika memang Anda jenuh dengan kondisi Anda sebagai seorang karyawan, mulailah menargetkan kapan Anda harus mulai FOKUS berbisnis. Konsekuensinya, Anda sebaiknya RESIGN atau mengundurkan diri sebagai karyawan. Mengapa demikian ?
- Fokus berbisnis = hasil maksimal
- menjaga penghasilan tetap halal dan berkah karena tidak didapatkan dari merampas jam kantor
- bisnis bersahabat dengan problematika, dengan masih merangkap sebagai karyawan kemungkinan besar kinerja Anda di kantor akan terganggu
Namun sebelum itu semua terjadi(resign dari karyawan), persiapkan hal-hal sebagai berikut:
- hitung tabungan Anda untuk persiapan satu tahun setelah resign, karena bisnis awal pada umumnya belum menunjukkan hasil yang maksimal. Butuh kesabaran. Bukan mustahil di awal-awal Anda resign, tabungan Anda akan terdegradasi oleh belanja sehari-hari.
- sebagai langkah awal, gandenglah rekan kerja/kerabat yang punya rezeki berlebih sebagai investor, dan tawarkan sistem bagi hasil/rugi kepada mereka. Hal ini untuk mengurangi resiko bisnis yang Anda tanggung sendiri
- mulai rancang siapa target konsumen Anda, minimal rekan-rekan kerja Anda di kantor sebagai konsumen potensial karena merera sudah mengenal Anda dan berpenghasilan tetap
- mulailah mempelajari solusi syariat Islam dalam menghadapi setiap problematika hidup maupun bisnis agar Anda bermental baja saat diterjang badai masalah.
Sekian dulu uraian dari saya, semoga bermanfaat untuk Anda. Berbisnis atau menjadi karyawan adalah sebuah pilihan. Dan FOKUS adalah kekuatan untuk mencapai hasil yang maksimal.






July 26, 2012 at 10:49 am
persis bgt dgn kejadian ane
InsyaAlloh pengen keluar cuma lom dikasi izin ortu,jd tunggu momen yg tepat biar ga mengecewakan ortu,barakallohu fiikum.
August 2, 2012 at 2:26 pm
Sama kayak kejadian ane juga. Dulu pernah keluar kerja buat bisnis, tp org tua belum ridho. Akhirnya, bisnis berguguran meninggalkan banyak tanggungan. Namun semua itu ada hikmahnya, tambah pengalamannya, dan semakin besar rasa syukurnya.
Saran saja sih, pahamkan orang tua tentang usaha yang akan dilakukan. Minta restu setulus2nya, agar orang tua mendoakan keberhasilan kita dalam berwirausaha. Kalau perlu cuci kaki ibu kita sambil minta didoakan. Orang tua mana yg tidak luluh melihat kesungguhan putra/putrinya.
Insya Alloh ridho orang tua akan mengantarkan kesuksesan kita.
August 23, 2012 at 12:20 pm
Postingan yang bermanfaat, banyak ilmunya. Barokallah…
January 5, 2013 at 10:55 am
Intinya, boleh keduanya asal tidak merugikan orng lain dan diri sendiri